Kamis, 04 Februari 2010

Resep Gaya Hidup Sehat


GAYA hidup modern yang serba instan dan praktis membuat orang malas menjalankan pola hidup sehat. Padahal, nutrisi makanan cepat saji tidak lengkap, dan lebih banyak lemak.

Bermacam restoran dengan menu makanan cepat saji semakin menjamur. Meski harga makanan yang dibanderol relatif tinggi, namun tidak menyurutkan minat para pembeli untuk menikmatinya. Kandungan nutrisi di dalamnya pun tidak lagi dipertimbangkan dengan baik.
Kandungan kalori dan kolesterol yang tinggi, serta rendah akan serat biasanya menyebabkan lemak mudah terbentuk dalam tubuh. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik atau olahraga, beragam penyakit bisa timbul. Belum lagi ancaman obesitas.

Pola makan seperti ini dapat mengundang penyakit degeneratif ataupun penyakit yang banyak menyebabkan kematian di dunia, seperti kanker. Kanker adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh pola hidup tidak sehat. Dari tahun ke tahun, usia penderita kanker semakin muda saja. Kanker yang biasanya identik dengan penyakit orang dewasa, kini menyerang kawula muda.

Karena itu, upaya pencegahan harus mulai disadari sejak dini, yaitu melalui pemilihan asupan makanan yang tepat dalam keseharian. Jauhkan kebiasaan pola makan tidak sehat dan beralih menyantap sayur dan buah. Mengonsumsi berbagai jenis sayur serta buah lebih sehat, dibandingkan makanan cepat saji.

Data dari American Cancer Society (ACS) menunjukkan, faktor eksternal, termasuk pemakaian tembakau, pola makan, penyakit infeksi, zat-zat kimiawi, dan radiasi menyumbang sekira 75 persen terhadap kasus kanker di Amerika Serikat. Sedangkan faktor genetik atau keturunan hanya menyumbang 5-10 persen untuk menimbulkan kanker. Di antara itu semua, pemakaian tembakau, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor yang paling meningkatkan risiko kanker.

Sebuah penelitian yang dilansir Daily Mail, Selasa (5/1/2010), melaporkan manfaat mengonsumsi sayur-mayur. Kandungan pigmen karotenoid dalam wortel, bayam, sayuran berwarna hijau lainnya, tomat serta jeruk merupakan antioksidan kuat yang menyerap senyawa-senyawa berbahaya yang dihasilkan ketika tubuh melawan penyakit. Antioksidan tersebut juga sangat penting bagi sistem imunitas tubuh dan sistem reproduksi. Selain itu juga membantu mencegah tubuh dari kanker.

Professor David Perrett selaku kepala laboratorium di Universitas St Andrews, tempat penelitian berlangsung memaparkan, “Penelitian ini sangat memuaskan dan memberikan kami harapan baik untuk bidang kesehatan. Apa yang kita makan, bukan hanya tentang seberapa banyak yang dimakan, tapi juga jenisnya."
gambar : amazon.com
sumber : okezone

Olahraga Ampuh Jaga Emosi Wanita


MENJELANG menstruasi, emosi wanita sering kali tidak stabil. Tanpa sebab, wanita tiba-tiba marah dan lebih senang menyendiri.

Menurut dr Boy Abidin, perubahan emosi wanita yang tidak stabil menjelang menstruasi adalah wajar. Saat itu wanita mengalami perubahan peningkatan hormonal. Fase ini disebut pre-menstruasi syndrome, yang biasanya terjadi 7-10 hari sebelum menstruasi.

”Untuk mengendalikan emosi, bisa dengan olahraga secara teratur. Jadi perubahan hormonalnya tidak terlalu fluktuatif. Intinya menjadi pola hidup sehat,” saran genekolog yang aktif memberikan penyuluhan seputar perilaku
seksual pada remaja.

Sependapat dengan dr Boy, psikolog Ratih Ibrahim menambahkan, emosi wanita bisa diatur dengan mengonsumsi nutrisi yang benar. Misalnya, mengonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna, dan suplemen kesehatan.

”Olahraga merupakan kunci utama menjaga emosi wanita,” tukasnya.

gambar : eruptingmind.com
sumber : okezone

Osteoporosis Membayangi Anda!


PERNAHKAH Anda melihat wanita tua bertubuh bongkok? Wanita tua itu pasti menderita penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang punggungnya melengkung.

Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga terjadi keropos atau keretakan pada usia senja. Definisi penyakit osteoporosis sendiri adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.

Osteoporosis terjadi ditandai dengan berkurangnya masssa dan mineral tulang, sehingga menyebabkan kondisi tulang menjadi rapuh, keropos dan mudah patah. Penyebabnya, selain kurang beaktifitas fisik atau olahraga, kebiasaan buruk penderita seperti asupan alkhohol dan merokok, serta asupan kalsium yang rendah juga menjadi faktor-faktor utama pencetus osteoporosis.

Sekitar 80 persen penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis.

Penyakit osteoporosis yang kerap disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis tidak mudah dideteksi secara
dini.

Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis datang lebih lambat.

Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Bayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit osteoporosis.

Sekitar satu di antara tiga wanita di dunia di atas usia 50 tahun dan satu di antara lima pria di atas 50 tahun menderita osteoporosis atau keretakan tulang. Di Indonesia prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-36 persen, sedangkan pria 20-27 persen, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6 persen, pria 38 persen.

Osteoporosis ada beberapa jenis yaitu osteoporosis postmenopausal yang terjadi karena berkurangnya estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangutan kalsium ke dalam tulang wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia 51-75 tahun, tetapi bisa juga muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Kedua, osteoporosis senilis, kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara proses cepatnya waktu hancurnya tulang dan pembentukan tulang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia 70 tahun dan berisoko 2 kali lebih besar menyerang wanita.

Dan ketiga, osteoporosis juvenile idiopatic, merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Jenis ini terjadi pada anak-anak dan dewasa. Berusia muda yang memilki kadar dan fungsi hormaon normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memilki penyebab jelas dari rapuhnya tulang.

Gejala-gejala osteoporosis diantaranya kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Jika kepadatan tulang sangat berkurang, maka tulangnya menjadi mudah kolaps atau hancur, sehingga timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk.

Namun, kita bisa melakukan deteksi sejak dini dengan melakukan tes kepadatan mineral tulang. Tes ini dapat mengidentifikasikan osteoporosis, menentukan resiko fraktur tulang, juga berfungsi mengukur respon tubuh Anda terhadap terapi osteoporosis.

Orang yang berisiko menderita osteoporosis adalah bagi yang memiliki keturunan penderita osteoporosis. Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita denga karakteristik perwawakan seperti kesamaan keperawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti memiliki struktur genetik tulang yang sama.

Juga bagi Anda yang gaya hidupnya kurang baik diantaranya banyak mengkonsumsi minuman bersoda, berkafein, dan berakholhol, serta kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Minuman berkafein dan beralkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak.

Hal ini dipertegas oleh Dr Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari Creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang.

Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas). Selama ini, penanganan ganguan keroppos tulang atau osteoporosis biasa dilakukan dengan pengobatan dan pemberian kalsium. Padahal hasil penelitian terbaru menyimpulkan bahwa olahraga angkat beban bisa menjadi salah satu usaha pencegahan terjadinya osteoporosis.

Latihan beban yang cukup dan teratur diketahui tidak hanya mampu membentuk otot, melainkan juga dapat memelihara dan meningkatkan kekuatan tulang. Pengaturan makanan yang baik juga kunci pencegahan osteoporosis. Sebagai pencegahan, beberapa orang lebih suka mengkonsumsi susu kesehatan yang mengandung kalsium tinggi daripada berolahraga atau latihan beban.

Pemberian susu berkalsium tinggi seharusnya diberi sejak masa kanak-kanak. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan hubungan antara minum susu dengan penurunan resiko osteoporosis di kemudian hari. Dr Nick Harvey dari MRC Epidemiology Resource Centre dan University of Southampton, mengatakan, pola dari pertumbuhan tulang di tahun pertama dari hidup kita dapat mempengaruhi secara bermakna munculnya gejala osteoporosis pertama kali di kemudian hari.

"Dalam penelitian kami, perbaikan dalam massa tulang dibandingkan dengan anak-anak lainnya berhubungan dengan meminum lebih banyak susu di masa kanak-kanak. Ini ditambah adanya faktor genetik yang membantu perbaikan untuk pertumbuhan tulang ini,” katanya.

gambar : alienview.net
sumber : okezone

Selasa, 02 Februari 2010

Wanita Rentan Terserang Kanker


WANITA ternyata lebih rentan terserang penyakit kanker. Karena itu, kaum hawa sebaiknya mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan konsumsi makanan yang sehat juga.

Saat ini kanker merupakan
salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pada tahun 2015, diperkirakan ada 9 juta orang yang meninggal karena kanker dan tahun 2030 diperkirakan ada 11,4 juta kematian karena kanker.

Jumlah kematian akibat kanker lebih besar daripada total jumlah kematian akibat TBC, HIV, dan malaria. Sebab, kanker dapat menimpa semua dan semua bagian tubuh dan semua orang meskipun lebih banyak pada usia di atas 40 tahun.

WHO mengungkapkan terjadi peningkatan jumlah penderita kanker setiap tahunnya hingga mencapai 6,25 juta orang dan dua pertiganya berasal dari negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, saat ini diperkirakan terdapat penderita kanker baru 1 : 1.000 penduduk per tahun.

Menurut data Departemen Kesehatan (Depkes), kanker merupakan penyebab kematian ke–5 di Indonesia dan mengalami peningkatan secara bermakna. Ironisnya, di negara berkembang, 80-90 persen biasanya tidak dapat disembuhkan karena penderita datang dalam stadium yang telah lanjut.

Memang, hingga saat ini belum ada data akurat mengenai kanker di Indonesia. Namun, diketahui dari rangkuman Pusat Patologi Indonesia, dari 10 jenis kanker paling banyak diderita di Indonesia, kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara menduduki angka tertinggi. Fakta ini membuktikan kaum wanita merupakan golongan paling berisiko terkena kanker dibandingkan pria.

Ketua II Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dr Melissa Luwia MHA mengatakan tidak dapat diketahui secara pasti mengapa wanita lebih rentan terhadap kanker. ”Dari data statistik memang mengungkapkan seperti itu. Tidak diketahui secara pasti mengapa wanita yang paling banyak menderita kanker dibanding pria,” katanya.

Gaya hidup tidak sehat, merokok, dan mengonsumsi makanan berlemak, Melissa menyebutkan, merupakan faktor paling banyak pencetus kanker. Dewasa ini para perempuan cenderung melakukan hal-hal yang merugikan kesehatan tersebut. Tidak heran, jumlah penderita kanker dari kaum hawa menanjak cepat.

”Memang tidak semua dari gaya hidup. Tetapi, biasanya penderita kanker menganut gaya hidup yang tidak baik. Misalnya penderita kanker serviks karena dia berhubungan seks dengan banyak orang. Kanker payudara akibat makanan berlemak. Kanker paru akibat merokok,” sebutnya.

Melisa menuturkan, akibat tingginya angka penderita kanker pada wanita, maka deteksi dini terhadap penyakit kanker ini menjadi begitu penting untuk menekan angka kematian. Rendahnya kesadaran mengenai kesehatan alat reproduksi ini yang akhirnya membuat perempuan berisiko terhadap kematian. Belum lagi ditambah posisi perempuan sebagai ”orang nomor dua” di keluarga membuatnya kian tak berdaya mengontrol kesehatan.

Salah satu upaya pencegahan kanker yang dapat dilakukan adalah dengan jalan pemeriksaan pap smer, untuk mengetahui secara dini adanya penyakit kanker serviks yang sampai kini masih menduduki tempat teratas penyebab kematian di kalangan kaum perempuan di Indonesia.

Selain pemeriksaan pap smer secara rutin, upaya pencegahan kanker serviks pada wanita, di antaranya menerapkan pola hidup sehat, menjaga keseimbangan makanan, banyak mengonsumsi sayur dan buah segar, hindari rokok atau berdekatan dengan seorang yang sedang merokok, serta menjaga perilaku seksual dengan baik. ”Segera memeriksakan diri bila menjumpai kelainan yang tidak biasa,” tuturnya.

Diketahui, kanker serviks dapat berkembang ketika sel yang abnormal dalam serviks (daerah yang menghubungkan rahim dan vagina) mulai membelah diri tanpa terkendali. Kanker serviks ini 99 persen disebabkan human papilloma virus (HPV). Selain selalu berganti pasangan, beberapa faktor lain yang mempermudah infeksi HPV adalah riwayat menikah muda pada usia kurang dari 20 tahun, sering menderita infeksi menular seksual, merokok serta ibu yang melahirkan banyak anak.

Sementara, penyebab pasti kanker payudara sampai saat ini belum diketahui. Namun, ada hal atau kebiasaan yang telah diketahui meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara. Di antaranya wanita kelompok umur 35-49 tahun, memiliki riwayat kanker payudara dalam keluarga dekat dan memiliki riwayat penyakit payudara jinak/tumor.

Selain itu, haid pertama kali pada usia dini, menopause pada usia lanjut juga berpotensi terkena penyakit ini. Hal ini disebabkan tubuh lebih lama terpapar hormon. Tidak menikah, tidak menyusui, infertilitas, melahirkan anak pertama di atas 35 tahun, radiasi, konsumsi alkohol berlebih, pola makan tinggi lemak, kegemukan, mendapat terapi hormon jangka panjang, juga meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

Untuk mendeteksi dini kanker ini termasuk mudah. Wanita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin setiap bulan, beberapa hari setelah haid berhenti. Diketahui, sekitar satu dari sepuluh perempuan berpotensi terserang kanker payudara. Sementara, pada pria kasus kanker payudara jauh lebih kecil sekitar 1 persen. Sepanjang tahun 2005, tercatat 502.000 orang meninggal akibat kanker payudara. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan rendahnya cakupan deteksi dini akibat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker payudara itu sendiri.

Di samping dua jenis kanker di atas, wanita juga rentan menderita kanker paru. Hal itu diakibatkan rokok. Bahkan, meski merokok lebih sedikit dibandingkan pria, wanita ternyata lebih rentan pada efek kerusakan paru akibat zat karsinogen yang terdapat dalam sebatang rokok.

Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 700 pasien kanker paru baru-baru ini. Para peneliti menemukan, meski wanita merokok secara kuantitas lebih sedikit dibandingkan pria, ternyata mereka cenderung berusia lebih muda saat didiagnosis terkena kanker paru. Penelitian lain yang dilakukan para ahli dari Universitas Harvard, Amerika Serikat dan Universitas Bergen di Norwegia terhadap 950 pria dan wanita yang menderita penyakit paru obstruktif kronik (COPD), penyakit akibat rokok, menemukan hasil yang hampir sama.

Diketahui, pasien COPD wanita umumnya berusia lebih muda ketika mereka didiagnosis memiliki penyakit tersebut, dan mereka merokok lebih sedikit dibanding pria. ”Wanita lebih rentan terhadap efek kerusakan paru-paru akibat rokok,” kata dr Inga-Cecilie Soerheim, peneliti tamu di Universitas Harvard yang hasil penelitiannya dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Thoraric Society’s.

Kesimpulannya, salah satu upaya pencegahan kanker adalah dengan peningkatan kualitas hidup dan hal itu dapat dimulai dari rumah. Karena itu sejatinya, sangatlah perlu diupayakan bagaimana pengetahuan mengenai kanker dikenal di setiap rumah tangga.

gambar : awwwww.org
sumber : okezone

Senin, 01 Februari 2010

Dampak Negatif Era Serbakomputer


TERLALU lama memandangi komputer akan membuat mata dan badan Anda lelah. Bila itu terjadi pada Anda, segeralah periksa. Siapa tahu Anda mengalami computer vision syndrome.

Hampir setiap hari Pinta Oktorina selalu mengeluhkan matanya yang sering terasa
sakit. Perempuan yang berprofesi sebagai secretary vice president salah satu bank swasta ini tak hanya lelah, dia juga sering merasakan pusing dan otot-otot di sekitar punggung terasa pegal. “Sangat mengganggu banget deh kalau penyakit ini sudah datang, saya jadi susah berkonsentrasi,” tutur lajang berusia 25 tahun ini.

Tak tahan dengan rasa sakit yang terus menderanya, dia pun memeriksakan mata. Dokter mengatakan bahwa Pinta terkena gejala computer vision syndrome. Dokter menyarankan Pinta untuk sering-sering mengistirahatkan matanya dari layar komputer.

Problem kesehatan mata yang dialami Pinta tersebut mungkin juga dialami jutaan orang di Indonesia, apalagi mereka pegawai kantoran yang setiap hari bekerja di depan layar komputer. Saat ini, di era serbakomputer, jenis pekerjaan juga mengikutinya. Zaman dahulu lebih banyak menggunakan fisik dan padat tenaga kerja, sementara pekerjaan zaman sekarang lebih banyak menggunakan soft skill yang membutuhkan kreativitas dan kesehatan mata yang baik.

”Adapun lingkungan kerja pun juga menjadi berubah, misal dari yang semula lebih banyak outdoor menjadi lebih banyak indoor, dan juga bisa memengaruhi mata,” tutur ahli mata dari Universitas Indonesia, dr Cosmos Octavianus Mangunsong SpM.

Dia menambahkan, semakin tinggi tanggung jawab seseorang dalam pekerjaannya, semakin membutuhkan kesehatan mata yang optimal. Teknologi untuk memudahkan pekerjaan saat ini, mempunyai faktor risiko untuk menurunkan kesehatan mata.

”Berbeda lingkungan kerja maka berbeda pula penyakit mata yang ditimbulkan akibat kerja,” tandas dokter yang berpraktik di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Misal dalam lingkungan pekerjaan administratif perkantoran, Cosmos menuturkan, beberapa penyakit mata akibat kerja yang sering timbul adalah computer vision syndrome. Sindrom itu artinya suatu kumpulan gejala. Computer vision syndrome adalah suatu kelainan yang merupakan kumpulan gejala disebabkan pemakaian komputer secara berlebihan.

”Kumpulan gejala itu meliputi pusing, kelelahan mata yang bisa mengakibatkan rasa nyeri atau iritasi, mata kering, leher yang kaku atau pegal, dan mata menjadi buram atau tidak fokus,” jelas dokter mata yang juga menjadi konsultan Health Marketing.

Pada waktu memakai komputer, mata berada dalam keadaan akomodasi agar mata kita mampu membaca dari jarak baca normal yaitu 30-33 cm. Namun demikian, jarak mata kita ke layar komputer tidak selalu 30–33 cm bisa lebih jauh atau lebih dekat. Aktivitas menggunakan komputer termasuk melihat dekat yang membutuhkan daya akomodasi.

Keadaan akomodasi terus menerus dapat membuat keletihan pada otot-otot akomodasi mata. Selain itu, saat kita berkonsentrasi di depan komputer maka jumlah kedipan mata berkurang.Sewaktu mata berkedip maka akan dipompa oleh air mata berupa tear film yang segar dan segera menyelubungi permukaan bola mata.

Sementara itu, kurangnya jumlah kedipan akan membuat permukaan bola mata lebih kering dan terasa iritatif. Selain itu, menatap layar komputer secara terus-menerus juga akan membuat otot-otot leher kita menjadi tegang. Begitu juga otot-otot di punggung. Keadaan kursi yang tidak nyaman dan tidak ergonomis dapat membuat otot tubuh kita pegal dan terkadang disertai nyeri.

”Kumpulan gejala astenopia, dry eye, gejala otot leher, dan pundak pegal, serta pusing, dan mata menjadi buram merupakan kumpulan gejala yang dapat terjadi pada computer eye sindrome,” papar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia ini.

Computer vision syndrome adalah kumpulan gejala gabungan dari gejala-gejala dry eye syndrome, astenopia, dan gejala keletihan otot tubuh terutama di bagian leher, punggung , dan pundak. Cara menghindarinya adalah dengan menghindari faktor risiko dry eye syndrome dan astenopia ditambah sedikit pelenturan otot daerah leher dan pundak.

”Untuk menghindarinya, di antaranya adalah dengan tidak terekspos oleh faktor risiko secara berlebihan,” pesan Cosmos.
gambar: myspace.com
sumber: okezone